Art Exhibition

CREATIVE HOPE: Agar Harap (Kembali) Bernilai

David Rafael Tandayu

Bicara tentang tahun baru yang diiringi dengan new year resolution sepertinya hal biasa—bahkan seperti template yang pelaksanaannya dapat dipertimbangkan kembali di kemudian hari. Hari ini di 2022—dengan mengingat apa yang terjadi pada kita sejak 2020, new year resolution seperti apa yang dibuat saat peralihan 2 tahun belakangan ini? Atau membuat resolusi sudah tidak penting—karena yang lebih penting adalah bagaimana pandemi ini bisa berakhir?

Tak dapat disangkal, keadaan terkini telah &/sangat banyak mengubah realitas. Adalah seni termasuk bidang yang terimbas; semendasar dengan ditutupnya ruang-ruang offline untuk kegiatan. Bila saat ini di AMYREA diadakan pameran ‘CREATIVE HOPE’, hal tersebut pun berisiko—sementara seni sendiri dapat terus bergerak; bahwa dalam konteks ‘CREATIVE HOPE’, penggeraknya adalah harapan. Mungkin klise karena harapan adalah hal abstrak—seperti slogan pemotivasi. Menilik AMYREA yang berlokasi di ruang urban, dapat dikatakan bahwa harapan berada di bawah sadar—karena dalam keseharian keurbanan yang tampak di permukaan adalah kerja, kerja dan kerja; hal tersebut tak masalah—karena hidup untuk dijalani dengan/sementara harapan tetap dijaga ada.

Apakah ketujuh perupa peserta pameran ‘CREATIVE HOPE’ adalah representasi penjaga harapan?

Karya-karya dalam ‘CREATIVE HOPE’ dibuat pada 2020 sampai 2022—yang dipandang sebagai pembuktian diri para perupa; bahwa pembuktian tersebut berkontribusi pada seni itu sendiri—dan demi mendapat manfaat dari hadirnya seni dalam keseharian, dipandang bahwa suatu narasi perlu dibangun.

Diakui bahwa “CREATIVE HOPE” mengacu pada creative hub, ruang yang dapat digunakan bersama untuk kegiatan kreatif. Di dalam AMYREA selama pameran berlangsung, pengertian ruang fisik dapat digerakkan baik ke arah temporal dan terkait seni ke arah estetika; keduanya mendasar. Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa karya-karya yang dipamerkan bermuatan estetika ganda; demikian pengantar ini akan mulai bernarasi dari karya Kreshna Patrian—yang terlihat mengemukakan elemen visual sementara berisi konteks terkini: new normalsocial media dan perihal relasi baik eksternal dan internal. Relevansi dapat muncul dengan refleksi; hal internal dan eksternal pun berkelindan. Mengamati “Lyfe Series” oleh Amy Zahrawaan, aspek ekspresi mengemuka saat menjelang pergantian tahun dimaknai sebagai momentum untuk membuat rencana perubahan; sementara pergantian tahun sesederhana bergantinya hari dan angka tanggal &/ tahun, dalam “Lyfe Series” Amy membangun problematisasi yang kemudian digenapi -juga- dengan sederhana: bahwa hidup adalah tentang menjalani proses.

Ekspresi berlapis mengemuka dari Dimas Ayu; tulisan pengantar karyanya yang bak petuah ternyata bukan bermaksud menggurui—bila dibaca dengan keterbukaan, terlebih saat melihat karya-karya yang diiringi pesan tersebut. Sepertinya Ayu bervisual tentang semangat berupaya—dengan komposisi karyanya yang padat dan mengandung kesan gerak. Pendekatan (ber)visual tersebut juga tampak dalam karya Elfira Soraya; terkait street art yang sudah banyak dibuatnya, melalui serial karya “Chasing My Wonderland” Elfira mengalihkan aspek formal yang dibuatnya di outdoor ke format kanvas—sekaligus menggerakkan kemungkinan membaca karya di &/ dari ruang publik ke ruang pribadinya.   

Muatan antara ruang publik dengan ruang pribadi dapat dikatakan menjadi medan kekaryaan baik bagi Angga Lowpop dan Ignatius Yosep Wenski; sementara ruang secara fisik dilampaui, yang diekspresikan adalah suatu kepedulian. Angga mengangkat isu alam yang berubah karena kepentingan manusia—dengan komposisi karyanya yang tercerai berai. Bahwa manusia (seharusnya) bersinergi dengan alam bagi terbangunnya suatu kearifan dikemukakan oleh Wenski dalam serial karya “Rahayu Sagung Dumadi”; realitas tentang wabah yang melanda digambarkan berpadu dengan aksara Jawa—berkesan visual poetry.

Tarik-menarik dalam medan kekaryaan dapat dikatakan menajam—seperti dikemukakan oleh Maharani Mancanagara melalui serial karyanya, “Recollected His Story”. Karyanya yang berformat kolase menguatkan perihal interupsi visual; bahwa eksplorasinya dibangun berdasarkan ragam fragmen ‘realitas dalam’ & ‘realitas luar’.

Demikian -jalinan- narasi di atas disampaikan untuk memperjelas bahwa, kembali ke temporal 2020-2022 dan perihal pembuktian diri, dapat dikatakan bahwa tumbuh suatu kesadaran baru—setelah kurang lebih dua tahun membiasakan diri dengan apa yang terjadi. Maksudnya -semendasar- para peserta pameran -tetap- punya hal (baca: karya) untuk ditunjukkan—sebagai pertanda bahwa keadaan terkini tidak menyurutkan perihal kekaryaan mereka. Dengan menjaga harapan, daya kreatif pun mengiringi—untuk kemudian dilanjutkan bagi pengunjung pameran untuk melihat, mengamati dan menafsir demi meluasnya medan kreatif.

Terima kasih.


Amy Zahrawaan

Amy Zahrawaan alias Monyetbali adalah seorang perupa dan penyelenggara kegiatan seni dari Jakarta. Lulus jurusan seni rupa di UNJ dan sedang kuliah S2 di IKJ, Amy gemar berkarya secara 2 dimensi terutama drawing, seni grafis, ilustrasi dan mural. Karyanya terinspirasi dari kisah fabel Aesopian; secara khusus Amy sering menghadirkan kera—sebagai kerabat terdekat manusia karena kemiripan struktur tubuh dan DNA yang mencapai lebih dari 90%, namun secara pola hidup sangat jauh berbeda: bahwa manusia menggunakan akal sementara kera mengandalkan insting. Amy sendiri merasa seperti kera yang terjebak di tubuh manusia; demikian konsep karyanya pun bermuatan satir terkait manusia yang bertindak irasional—seperti kera yang mengikuti insting; konsep tersebut kemudian dikemasnya secara humor dan parodi. 

Instagram: @amysimonyetbali

Lyfe Series

Evaluasi dan resolusi di penghujung tahun; semua orang berharap hidupnya lebih baik di tahun mendatang—sambil bersiasat agar tidak mengulangi kesalahan di masa lalu. Namun perlu diingat, hidup tak selamanya sesuai dengan apa yang kita harapkan—karena bagai roda yang berputar, kadang di atas kadang di bawah. Bagaimanapun, setiap proses kehidupan sebaiknya dinikmati dalam segala situasi dan kondisi, entah sedang sulit ataupun senang. 

Keempat karya “Lyfe Series” merepresentasikan momentum proses yang kita hadapi saat berusaha merealisasikan resolusi kehidupan yang ideal. Dalam menentukan keputusan hidup, terkadang kita sering merasa bingung seperti tak tentu arah, tiba-tiba mendapat ide, tertawa padahal tidak merasa senang, sampai terkadang -harus- menjadi figur yang menyebalkan agar tidak dikelabui orang lain. 

Yah namanya juga hidup, wajar diselimuti masalah … kalau diselimuti wijen namanya onde-onde … hehehe.

[AZ-01] Confused
2021
Cat akrilik di atas kanvas
40 cm x 40 cm 
Rp 500.000

[AZ-02] Laughing
2021
Cat akrilik di atas kanvas
40 cm x 40 cm
Rp 500.000

[AZ-03] Thinking
2021
Cat akrilik di atas kanvas
40 cm x 40 cm
Rp 500.000

[AZ-04] Annoying
2021
Cat akrilik di atas kanvas
40 cm x 40 cm
Rp 500.000


Angga Lowpop

Angga Wahyu alias Lowpop adalah seorang visual artist asal Lampung. Dengan seni yang dicintainya sebagai media introspeksi diri, Angga mengangkat isu terkait lingkungan dan dinamika kehidupan dalam karyanya. Format karya Angga beragam; dari dua dimensi, ilustrasi sampai mural—yang telah banyak diapresiasi sampai bekerja sama dengan beberapa fashion brand.

Elemen figur, tipografi, simbol, warna cerah dan komposisi tercerai berai adalah ciri khas sekaligus keunikan karya Angga; kesan ketidak sempurnaan karena terpisah-pisahnya elemen-elemen tersebut justru membuka ruang bagi penikmat karyanya untuk memaknai &/ membangun -beragam- cerita. 

Instagram: @lowpop_

[AL-01] Bad Impact #1
2021
Akrilik, cat semprot dan kanvas
46 cm x 43 cm x 4,5 cm 
Harga: Rp 2.500.000

[AL-02] Bad Impact #2
2021
Akrilik, cat semprot dan kanvas
46 cm x 43 cm x 4,5 cm 
Harga: Rp 2.500.000

[AL-03] Bad Impact #3
2021
Akrilik, cat semprot dan kanvas
46 cm x 43 cm x 4,5 cm 
Harga: Rp 2.500.000

Ketiga karya “Bad Impact” diatas adalah bagian dari karya “Bad Future” yang membicarakan tentang hubungan baik buruk antara manusia dengan lingkungan saat ini.

Ekosistem hutan memiliki peranan  penting dalam keberlangsungan hidup di bumi. Sayangnya saat ini banyak manusia membuka area hutan alam—khususnya seperti di daerah tropis di Indonesia; kondisi ini tentunya dapat mengancam ekosistem hutan dan berdampak buruk bagi semua makhluk hidup.

[AL-04] Trees and Mountains #1
2021
Akrilik, cat semprot dan kanvas
46 cm x 43 cm x 4,5 cm  
Rp 3.800.000

[AL-05] Trees and Mountains #1
2021
Akrilik, cat semprot dan kanvas
46 cm x 43 cm x 4,5 cm  
Rp 3.800.000

Pohon dan gunung menyokong sumber makanan dan menyediakan rumah bagi banyak spesies yang tak terhitung jumlahnya; termasuk kita—melalui bahan bangunan. Namun kita sering memperlakukan pohon sebagai sumber ekonomi saja, jauh dari berpikir bahwa mereka juga melindungi kita. Manusia terus menebang hingga bencana mulai tak mampu ditahan oleh sebatang pohon. 


Dimas Ayu Lestari

Lulus pendidikan seni rupa dari Universitas Pendidikan Indonesia, Ayu menekuni drawing dan painting. Telah terlibat dalam pameran di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, karya-karyanya tentang memaknai hidup terlihat bermuatan pop, menampilkan karakter yang imajinatif dengan komposisi dan pewarnaan yang berkesan padat.

Instagram: @missdimasayu 

“Hidup ini terlalu singkat untuk memahami, tapi terlalu lambat untuk menghargai”

Kehidupan bukanlah perlombaan cepat dan unggul dalam mencapai sesuatu; bukan pula untuk tergesa gesa—namun harus disadari jika kita terlalu lambat niscaya akan menyesal seumur hidup. Waktu tak sudi menunggu yang terlalu bersantai. 

Fokuslah pada target yang ingin dicapai—sambil berbenah diri. Terkadang kita berkaca pada kehidupan orang lain—bahkan iri dengan keberhasilan dan privilege mereka; sementara punya privilege pun percuma bila hanya bermalas-malasan. Yang bertekad kuatlah yang akan berhasil.

Dukungan orang lain juga penting—namun jangan pernah menunggu dan jangan pasif; dengan atau tanpa dukungan tetaplah melangkah maju. Terbiasa mengandalkan dukungan, niscaya mudah kehilangan semangat saat  tidak didukung.

Janganlah mengejar kesempurnaan karena hanya melelahkan. Walaupun tidak semua dapat berjalan lancar, lakukan saja; juga belajar dari kesalahan. Seiring waktu kemampuan kita akan bertambah dan bisa lebih baik lagi. 

Refleksi pangkal motivasi. Perjalanan sampai akhir hayat sangat panjang, yang terpenting adalah terus bergerak dan progresif. Saat lelah beristirahatlah, tapi bukan berhenti. 

[DA-01] Jump High
2021
Akrilik di atas kanvas
40 cm x 40 cm
Rp 500.000

[DA-02] Ready
2021
Akrilik di atas kanvas
40 cm x 40 cm
Rp 500.000

[DA-03] Steady
2022
Akrilik di atas kanvas
40 cm x 40 cm
Rp 500.000

[DA-04] Punch in the face
2022
Akrilik di atas kanvas
40 cm x 40 cm
Rp 500.000

[DA-05] Heat
2022
Akrilik di atas kanvas
40 cm x 40 cm
Rp 500.000


Elfira Soraya

Elfira menggambar sejak berusia 3 tahun. Sebelumnya bekerja sebagai fashion designer untuk brand lokal dan sekarang sebagai konsultan untuk produk spray paint, dirinya menikmati berkesenian: “I consider to be an artist because its so much fun”   

Menyebut vandal juga bagian dari berkaryanya, sepertinya karena Elfira -yang juga dipanggil Raya- banyak membuat karya street art

Instagram: @rayaelfira

Chasing My Wonderland

Membawa street art ke dalam kanvas seperti menuangkan isi satu teko ke dalam cangkir kecil; fragile dan bisa tumpah, tetapi menjadi teknik tersendiri ketika menuang agar tidak terlalu sedikit atau terlalu penuh. Dunia street art sendiri tidak berbatas ruang. Kejar-kejaran antara street art dengan kehidupan adalah keharusan; revolusi industri ratusan tahun lalu membuat pola hidup hari ini menjadi 9 to 5 demi memenuhi kebutuhan. Keurbanan pun bergerak; secara fisik semisal dengan penciptaan alat transportasi, hal yang dekat dengan Elfira sebagai penggunanya. Demikian serial karya “Chasing My Wonderland” bercerita tentang karakter yang bertemu dengan graffiti—sebagai cara bicara yang menyenangkan bagi Elfira; menjadi komposisi yang bisa dinikmati oleh publik—tanpa dirinya berpura-pura.

[ES-01] SBAHN
2022
Spray paint, pencil, oil paste & marker paint on canvas
60 cm x 60 cm
Rp 7.000.000

sbahn: subway (German). 
Kehidupan masyarakat urban dengan segala konfliknya; ego, cerita cinta, narcissist dan berkejar-kejaran dengan waktu.

[ES-02] VANDALI EL TRENO
2022
Spray paint, pencil, oil paste & marker paint on canvas
60 cm x 60 cm
Rp 6.900.000

vandali el treno: corat-coret ilegal di kereta (Itali). 
Rushing adrenaline, it’s a must !! Salah satu keinginan terbesar untuk keliling dunia dan bisa melihat langsung gambar kereta di seluruh dunia

[ES-03] WRITING ON THE WALL
2022
Spray paint, pencil & marker on canvas
60 cm x 60 cm
Rp 7.050.000

Writing on the wall, it’s a must !! Self portrait pencapaian gambar di berbagai media dan setiap pergi membawa cat semprot sebagai pengganti pewangi tubuh; karena gambar adalah necessary.

[ES-04] TORTA E DONNE
2022
Spray paint, pencil & acrylic paint on canvas
60 cm x 60 cm
Rp 6.900.000

torta e donne: kue dan perempuan (Itali).
Tribute kepada salah satu underground writer yang banyak mengajari pengetahuan baru tentang dunia graffiti dunia.

[ES-05] HIDE & SEEK
2022
Spray paint, pencil & oil paste on canvas
60 cm x 60 cm
Rp 7.325.000

Silentescape, tetapi tetap ingin mengamati. Tersapu oleh waktu yang begitu cepat menghantui di kelamnya malam.


Ignatius Yosep Wenski

Wenski adalah seorang illustrator yang berdomisili di Yogyakarta. Konsisten menggambarkan hal perilaku dan simbol-simbol di sekitarnya, eksplorasi karyanya bermuatan budaya Jawa; cerita rakyat, wayang dan kebiasaan yang dihubungkan dengan konteks terkini.

Instagram: @_wenski_

Rahayu Sagung Dumadi

Wabah melingkar menyelimuti negeri, bermutasi dan melumpuhkan ekosistem di dalamnya.
Melawan, berupaya menghentikan, tidak sedikit yang kalah. 
Wabah tidak berhenti begitu pula manusia. Harapan tidak padam, meski harus hidup berdampingan dan beriringan.

[IW-01] Nalika lelara teka
2022
30 cm x 42 cm
Rp 6.000.000

Ketika wabah penyakit datang dan melanda seluruh isi bumi.

[IW-02] Prihatin marang kahanan
2022
Tinta, cat akrilik & gouache di atas kertas
30 cm x 42 cm
Rp 6.300.000

Prihatin dengan keadaan, jatuh bangun melawan dan berupaya agar kembali pulih.

[IW-03] Pati ing mala, manungsa teteg ati marang Gusti
2022
Tinta, cat akrilik & gouache di atas kertas
30 cm x 42 cm
Rp 6.500.000

Kematian dalam sebuah bencana/musibah, harapan manusia tidak tergoyahkan atas rahmat Tuhan Yang Maha Bijaksana—meski harus hidup berdampingan dengan wabah yang belum usai.

[IW-04] Kamulyan bakal teka, rahayu sagung dumadi
2022
Tinta, cat akrilik & gouache di atas kertas
30 cm x 42 cm
Rp 6.000.000

Hidup damai seperti sedia kala akan segera terwujud dimana manusia menikmati segala kehidupan di bumi. Semoga semua makhluk diberikan keselamatan dan kebahagiaan. 

Kembali ke dalam diri, memaknai dan berdamai Kembali tanpa sibuk mencari.

Melanjutkan setiap peristiwa untuk menjadi asa dalam upaya.

[IW-05] Loophole
2021
Cat gouache di atas kertas
50 cm x 50 cm
Rp 14.375.000

Aksara Jawa pada karya berbunyi:
Gusti paring pitulung, saciptanira kelakon sageda sabar santosa lan narima pinuju rahayu talitinen lan larasen sajroning ati
karsaning Gusti wis pasti

yang bermakna:

Sang Pencipta memberikan segala pertolongan dan kehendak tercapai, belajar untuk lebih bersabar, rendah hati dan menerima keadaan yang dihadapi menjadi damai dalam diri, memaknai Kembali di dalam diri segala sesuatu yang terjadi, agar mendapat rahmat-Nya yang pasti.


Kreshna Patrian

Bekerja profesional di bidang arsitektur, Kreshna juga seorang illustrator. Meyakini kedua bidang yang dijalaninya saling berhubungan, karya Kreshna mengaplikasikan bentuk arsitektur yang dipadukan dengan warna dan imajinasi secara abstrak untuk menyampaikan pesan yang ironi.

Instagram: @kreshna.patrian

[KP-01] HOPE V2
2020
Cetak di atas kertas
40 cm x 40 cm
Rp 2.500.000 

Keadaan pandemi 2020 membuat semua kegiatan berhenti sementara, tapi pada 2021 dan seterusnya dunia sudah mulai kembali berjalan dalam keadaan “new normal”. Hal yang selalu menjadi pegangan adalah harapan bahwa dunia akan kembali membangun dirinya dan mengadopsi “new normal” dalam kesehariannya, sehingga di masa depan “new normal” akan menjadi “normal”.

[KP-02] MASK
2020
Cetak di atas kertas
40 cm x 40 cm
Rp 2.500.000 

Munculnya protokol kesehatan dalam kegiatan dan ruang-ruang publik menyebabkan masyarakat mengadopsi kebiasaan baru; salah satunya adalah memakai masker. Dari kewajiban ke kebiasaan sampai menjadi gaya hidup, bermunculan berbagai macam tipe dan desain masker; bahwa masker telah menjadi bagian dari identitas.

[KP-03] IN YOUR FACE
2020
Cetak di atas kertas
40 cm x 40 cm
Rp 2.500.000 

Di masa “new normal” ini, pertemuan online lewat aplikasi seperti Zoom dan Google Meet sudah menjadi kebiasaan baru; akibatnya muncul pula kebiasaan mengutamakan penampilan muka. Aplikasi online memberikan outlet untuk berekspresi dengan berbagai macam filter—dimana masing-masing orang dapat ‘bermain dengan muka’.

[KP-04] OOTD (OUTFIT OF THE DAY)
2020
Cetak di atas kertas
40 cm x 40 cm
Rp 2.500.000 

Pakaian yang kita gunakan adalah salah satu cara yang memudahkan untuk mengekspresikan diri. Masing-masing orang mempunyai kepribadian, preferensi dan sudut pandang yang berbeda; hal-hal tersebut dapat muncul di pilihan pakaian, bahkan banyak orang yang menggunakan pakaian sebagai statement tanpa harus menggunakan kata-kata. Tidak bisa dipungkiri bahwa pakaian adalah bagian penting dari image seseorang.

[KP-05] BLACK SPACE
2020
Cetak di atas kertas
40 cm x 40 cm
Rp 2.500.000 

Lockdown menjadi bagian dari hidup pada 2020; hal itu sangat mempengaruhi keseharian kita. Hampir semua orang tidak bisa hanya berdiam saja di rumah dan mengalami berbagai masalah dalam proses beradaptasi. Mental health menjadi salah satu hal dari lockdown; bisa bertemu orang lain secara langsung, berada di tempat publik dan merasakan keramaian tempat kerja pun dirindukan oleh banyak orang. Sementara ketiadaan sosialisasi selama lockdown membuat banyak orang mempunyai waktu untuk berkontemplasi, berdialog dengan diri sendiri dan menemukan banyak hal—baik itu bagus maupun buruk.

[KP-06] HEARTBREAK
2021
Cetak di atas kertas
40 cm x 40 cm
Rp 2.500.000

Kabar buruk adalah bagian dari kehidupan kita—dan tidak sedikit orang yang lebih sering menerimanya daripada orang lain. Dalam masa pandemi ini, hubungan antara manusia diuji dengan terbatasnya interaksi; tidak sedikit orang-orang terutama pasangan yang harus menjalankan hubungan jarak jauh & tidak sedikit pula yang tidak tahan dengan hubungan seperti itu sehingga akhirnya menghentikan hubungannya. Realitas seperti itulah yang membuat banyak orang berkontemplasi—sendiri dalam isolasi.

[KP-07] MANNEQUIN
2021
Cetak di atas kertas
40 cm x 40 cm
Rp 2.500.000 

Apakah kita yang memakai baju atau baju yang memakai kita? 

Banyak orang yang menggunakan pakaian sebagai bagian dari identitas mereka, tapi tidak semuanya berhasil mengekspresikan hal itu ke dalam pakaian yang mereka gunakan. Dengan banyaknya pilihan warna, pola dan tipe pakaian, sering kali banyak orang yang melakukan terlalu banyak akhirnya membuat dirinya ‘terpakai’ oleh pakaiannya dan bukan sebaliknya.


Maharani Mancanagara

Maharani Mancanagara adalah seorang seniman dari Bandung. Lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain-Institut Teknologi Bandung jurusan Studio Seni Grafis, dirinya banyak berkarya drawing, instalasi dan dengan media campuran dan instalasi. Karya Maharani mengeksplorasi sejarah Indonesia, juga berdasarkan pengalaman pribadi dan keluarganya; ide berkaryanya terbangun dari kesadaran terkait konteks terkini yang kemudian di-media-kan dikaitkan dengan (ke)sejarah(an). 

Instagram: @mancanagara

Recollected His Story (series)

Memori bagi Maharani merupakan sebuah bentuk penegasan atas keberadaan seseorang, kolase peristiwa- peristiwa pada masa tertentu yang memiliki nilai historis tersendiri. Nilai memori menjadi sangat penting baginya dalam mengenal identitas diri, terlebih perihal pertanyaan seputar asal usul.

Seri karya ini merupakan proses penelusuran Maharani terhadap sosok yang membentuk dirinya saat ini. Melalui jejak peninggalan dan juga cerita-cerita dalam keluarganya, Maharani mencoba menginterpretasi melalui interupsi visual dari apa yang dialami oleh sanak keluarganya.

[MM-01] Recollected His Story (6)
2022
Kolase
21 cm x 29 cm
Rp 1.400.000

[MM-02] Recollected His Story (7)
2022
Kolase
21 cm x 29 cm
Rp 1.400.000

[MM-03] Recollected His Story (8)
2022
Kolase
21 cm x 29 cm
Rp 1.400.000

[MM-04] Recollected His Story (9)
2022
Kolase
29 cm x 21 cm
Rp 1.400.000

[MM-05] Recollected His Story (10)
2022
Kolase
29 cm x 21 cm
Rp 1.400.000

[MM-06] Recollected His Story (11)
2022
Kolase
29 cm x 21 cm
Rp 1.400.000


Art Exhibition Team
David Rafael Tandayu
Fitri Kristyoarti
Andy Salem


Hubungi staff kami untuk pembelian karya